Home | About | Blog

Archive for " September, 2009 "

VAKSIN KOMBO

Posted by in Monday, September 14th 2009


Lazimnya, seorang anak akan mendapatkan imunisasi sebanyak 13 kali dengan jadwal terpisah, sebelum usianya menginjak 5 tahun. Tapi belakangan ada alternative pemberian beberapa jenis vaksin digabung jadi satu suntikan. Imunisasi alternative ini dikenal dengan vaksin kombinasi atau vaksin kombo. Vaksin kombo adalah gabungan beberapa jenis virus atau bakteri menjadi satu jenis produk antigen untuk mencegah penyakit yang berbeda. Praktisnya, pemberian vaksin ini cukup dilakukan dalam satu suntikan saja. Vaksin ini telah mendapat persetujuan dari pemerintah masing-masing Negara.

Jenis Vaksin Kombo

 

Vaksin kombinasi yang tertua adalah DPT. Dari penggabungan vaksin DPT yang terbukti aman ini, kemudian timbul ide menggabungkan beberapa vaksin lainnya. Maka jadilah penggabungan vaksin DPT dengan vaksin lainnya. Misalnya, DPT + Hepatitis B, DPT + Hib (Haemophilus Influenzae tipe B) dan sebagainya.

 

Mengenal Vaksin Yang Diperlukan Anak

Posted by in Monday, September 14th 2009


  • HEPATITIS B

Penyakit ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kerusakan hati, bahkan kanker hati. Imunisasi ini diberikan tiga kali dengan jadwal tergantung dari kesepakatan dokter. Yang pasti, imunisasi kedua harus diberikan setelah 1-2 bulan imunisasi pertama dan yang ketiga diberikan selang 5 bulan kemudian.

 

  • BCG (Bacillus Calmette Guerin)

Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit Tuberculosis (TBC). Pemberian hanya satu kali yaitu pada saat bayi berusia 1 bulan atau segera setelah lahir. Dibekas suntikan akan muncul bintik seperti bisul kecil yang nantinya akan mongering. Bila tidak ada bisul, maka suntikan tersebut gagal dan harus diulang kembali. Penanggulangannya bisa kapan saja, sebelum si kecil berusia setahun.

 

Mengatasi Anak Yang Suka Nonton TV

Posted by in Saturday, September 12th 2009


Buah hati Anda senang menonton Televisi? Bayi yang baru berusia beberapa bulan pun setelah matanya bisa melihat dengan jelas senang melihat televisi. Apalagi bagi bayi diatas satu tahun. Buat anak, teve seolah menjadi jendela untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Dengan sinar yang berwarna-warni dan gambar-gambar yang bermacam-macam.

 

Namun sebagai orang tua kita patut waspada, karena ternyata televisi menyimpan beragam masalah buat anak. Salah satunya adalah ancaman kerusakan pada mata. Sekarang jumlah pemakai kacamata anak-anak relatif meningkat.

Sinar biru (blue light) inilah yang dituding sebagai penyebab utama kerusakan pada mata anak. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang 400-500 nano meter pada spektrum sinar yang masih dapat diterima oleh mata. Secara alamiah, sinar biru dipancarkan oleh matahari. Namun kemajuan teknologi seperti televisi, komputer serta lampu neon juga punya andil terhadap kian menyebarnya blue light di tengah masyarakat.

 

[break]read more{/break}

Kenapa bayi dan anak rentan? Karena masih tahap perkembangan, tingkat kejernihan mata anak lebih besar dibanding orang dewasa. Akibatnya lebih besar pula sinar biru ditangkap retina mata anak. Pada jangka pendek, sinar biru yang mengalami oksidasi itu bisa mengganggu kerja retina.

Untuk menjauhkan anak dari televisi tentu tidak mudah dilakukan, apalagi melarang untuk tidak bermain games. Bagaimana cara mengatasinya? Pertama, orang tua jangan bosan mengingatkan anak untuk tidak menonton televisi terlalu dekat atau terlalu lama. Kedua, anak sebaiknya banyak mengkonsumsi makanan dengan kandungan zat lutein. Yaitu nutrisi senyawa karotenoid yang banyak ditemukan pada sayuran berwarna kuning jingga (wortel), sayuran berwarna hijau (brokoli), dan buah berwarna merah dan kuning jingga (tomat, arbei, semangka dan mangga), serta ASI.

Kecukupan lutein pada makanan membantu menjamin perkembangan mata yang sehat pada bayi dan anak. Kadar lutein yang paling tinggi terdapat pada ASI. Semakin lama bayi mendapat ASI, akan semakin terjamin kesehatan dan perkembangan matanya.

 

Cara Melatih Kecerdasan Anak

Posted by in Thursday, September 03rd 2009

 

  • Kecerdasan Musikal, kecerdasan yang berkaitan dengan musik. Anak dengan gampang mengikuti lagu atau tidak segan-segan menari mengikuti lagu di setiap kesempatan.

Cara melatihnya :

Ajaklah anak mendengarkan musik, bernyanyi dan mengikuti irama dengan tepuk tangan. 

  • Kecerdasan Interpersonal (Sosial), kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuannya menjalin hubungan dengan orang lain atau lingkungannya. Misalnya, anak bisa beradaptasi dan bekerja sama dengan teman-teman, guru dan orang lain yang lebih tua.

Cara melatihnya :
Doronglah anak agar selalu punya waktu untuk bermain dengan anak lain yang sebaya, lebih tua ataupun lebih muda. Saling berbagi kue, meminjamkan sesuatu dan bekerja sama membuat sesuatu. Saat dia kalah dalam sebuah permainan misalnya, dia akan belajar bagaimana berlapang dada menghadapi kekalahan dan bersikap pada teman yang menang.
 

Jenis-Jenis Kecerdasan Yang Perlu Dikembangkan

Posted by in Thursday, September 03rd 2009

Selain ngobrol, stimulasi terbaik buat si kecil adalah mengajaknya bermain secara kreatif. Semua anak pada dasarnya memiliki potensi kecerdasan, tergantung pada stimulasi, lingkungan dan nutrisi yang mendukungnya. Tanpa stimulasi kerapkali potensi sang anak tidak berkembang sempurna. Ibaratnya, bisa saja seorang anak sebetulnya memiliki potensi kecerdasan satu gelas, namun karena kurang stimulasi dan nutrisi, kecerdasan yang muncul akhirnya hanya sepertiga gelas saja.

 

Perlu diingat, kecerdasan tidak cuma ukuran IQ, itu hanya mengukur sebagian kecil dari otak manusia. Otak manusia jauh lebih kompleks dari yang diukur. Tidak mengherankan bila sering kali kita jumpai orang-orang ber-IQ tinggi tapi sulit berprestasi. Sebaliknya, ada orang dengan IQ yang sedang-sedang saja namun bisa berprestasi dengan bagus.

 

Menurut teori Howard Gardner, setiap orang memiliki kecerdasan yang terdiri dari sembilan aspek kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Sembilan kecerdasan itu adalah kecerdasan musical ritmis, interpersonal (social), intrapersonal, verbal-linguistik, logika-matematika, visual-spasial, kinestik tubuh, alam dan moral.

8 Cara Mudah Berkomunikasi Dengan Bayi

Posted by in Tuesday, September 01st 2009

Berbicara dengan bayi atau anak tidaklah mudah, namun hal itu bisa dipelajari. Berikut siasat agar bisa ngobrol dengan si kecil : 

  1. Jadilah pendengar yang baik

Cobalah untuk menjadi pendengar yang sabar dan baik saat anak ingin menceritakan sesuatu hal. Hentikan kegiatan yang sedang Anda lakukan, lalu tataplah sang anak dan dengarkan baik-baik. Ini agar anak merasa dihargai. Anda bisa menggunakan kata-kata seperti ; “Oya, lalu?”, “Wow”, “Wah, hebat sekali”, atau “Bunda mengerti”. 

  1. Jangan memotong pembicaraannya, jangan memaksa

Biarkan anak mengungkapkan perasaannya saat berbicara, apapun ekspresi anak saat itu. Biarkan dia menceritakan kemarahannya, ketakutan, kegembiraannya, atau sekedar berkomentar. Setelah itu dengan lemah lembut mintalah anak giliran mendengarkan perkataan Anda. Ciptakan komunikasi dua arah. 

  1. Berpikirlah seperti anak berpikir

Saat ngobrol dengan anak, jangan gunakan persepsi Anda sebagai orang dewasa. Seberapa pun logis pikiran Anda, bila Anda tidak menggunakan cara pandang anak, maka pembicaraan tidak akan ‘nyambung’. Posisikan diri Anda sebagai anak. Bayangkan betapa sulitnya Anak mengutarakan masalah ini. Maka ini akan menumbuhkan empati dan bisa memberikan reaksi atau komentar yang lebih matang.

NGOBROL DENGAN SI KECIL

Posted by in Tuesday, September 01st 2009

Salah satu alat stimulasi yang bagus untuk si kecil adalah mengajaknya ngobrol. Kebiasaan ngobrol dengan anak akan membuat orang tua menjadi lebih dekat dengan sang anak. Interaksi keduanya pun bisa berlangsung lebih hangat. Semua orang pasti sudah paham manfaat dari kebiasaan ngobrol dengan si bayi. Semakin intens komunikasi orang tua dengan anak maka perkembangan otak, kecerdasan, kemampuan bahasa serta kematangan emosi sang anak akan semakin terasah. 

Kebiasaan ngobrol ini sebaiknya dilakukan sejak dini. Bayi walaupun belum bisa berkata-kata, mereka sudah bisa membaca gerak bibir saat penglihatannya sudah sempurna. Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa bayi-bayi usia 4-6 bulan bisa menyimak percakapan dengan membaca gerak bibir orang dewasa.